Rasanya sudah lama sekali semenjak terakhir kali gue menulis disini. Membaca dua tulisan terakhir gue, bahkan gue enggak ingat dalam kondisi apa gue menulis kedua tulisan tersebut. Gue cuma tahu, pergolakan pikiran gue itu nyata. Gue selalu melewati berbagai versi cerita dalam kepala gue dan mengeluarkan dalam bentuk sandi yang tidak perlu diketahui orang lain. Cukup gue sendiri yang bahkan mungkin tidak akan paham pada akhirnya apa yang gue maksud disitu. Apakah ini bisa disebut seni? Yah, gue tidak tahu dan paham definisi kata seni sendiri jadi mari kita biarkan pembahasan tersebut.
Jadi, sudah 9 bulan lewat beberapa hari semenjak 6 April 2015, hari pertama gue bekerja setelah akhirnya gue ditolak oleh Northwestern University (yang sampai hari ini gue tidak tahu alasannya, dimana kemungkinan karena GRE gue lebih kuat di quantitative sementara gue mau masuk jurusan biologi). Gue ditolak sekitar akhir Januari 2015 dan istirahat sejenak sampai akhir Februari dan baru mulai mencari kerja di awal Maret. Gue bersyukur banget enggak mengalami hal yang beberapa teman-teman gue alami. Meskipun pada akhirnya gue bekerja di bidang yang mungkin tidak terbayang hubungannya apa (antara ecommerce dengan biologi), ternyata semua fondasi yang gue pelajari selama kuliah sangat bermanfaat ketika gue bekerja. Baik itu pemahaman statistik, desain penelitian, hingga logika excel.
Di kantor, gue sendiri merasa cukup nyaman, tapi dari sini juga gue sadar kalau gue lebih ingin bisa ada di dunia akademisi. Dimana gue bisa mengajari orang secara konstan, terus belajar hal baru, hingga melakukan riset dengan gue sebagai bos atas diri gue sendiri. Pada dasarnya, gue enggak berkeberatan untuk kerja dibawah orang. Tapi terkadang, gue menikmati dimana semua pekerjaan ditentukan oleh kerajinan gue sendiri. Bukan yang pasti 9-6 dan gue harus ada di sebuah rutinitas.
Detik ini, gue sudah mencapai tahap cukup paham dengan apa yang gue kerjakan di bidang gue. Senior gue di kantor juga sepertinya cukup senang dengan perkembangan gue. Gue sendiri senang juga sih karena menunjukkan gue bisa belajar hal selain biologi. Selain itu juga, kalau nanti sahabat gue mau membuka wirausaha, mungkin gue bisa membantu dengan hal terkait pemasaran digitalnya. Kasus terburuk, gue akan selalu punya pilihan untuk jadi pekerja lepas di bidang ini. Kalau enggak salah ilmu mempersiapkan ini gue pelajari dari seni perang sun tzu.
Taraf hidup gue sekarang juga begini-begini saja. Tapi gue bahagia karena setidaknya gue sudah bisa untuk enggak merepotkan ibu gue dari uang saku bulanan. Sudah saatnya beliau menabung untuk hari tuanya atau digunakan untuk memanjakan dirinya. Terkait itu juga, gue perlu belajar banyak sih, bagaimana cara menabung dan mengatur keuangan gue.
Untuk hidup sendiri, gue rasa keuangan gue enggak akan ada masalah. Tapi untuk berdua? Itu lain cerita. Apalagi ketika sekarang gue sedang mengalami titik persimpangan jalan dimana gue sudah menjalani hubungan dengan seseorang tapi tiba-tiba ada orang lain datang dengan menawarkan apa yang seseorang ini tidak bisa tawarkan. Gue enggak bisa membuat keputusan dalam waktu dekat ini, tapi gue masih percaya kalau cerita ini akan mengajarkan gue banyak pengalaman hidup dan bagaimana berbicara dengan hati yang lebih dalam.
Gue enggak tahu bagaimana gue berubah dibanding gue 9 bulan yang lalu. Gue cuma merasa lebih banyak yang gue pikirkan sekarang. Oh iya, gue juga merasa waktu untuk gue bermain permainan konsol dan membaca buku jauh berkurang. Sedih, tapi kalau dipikir lagi, inilah hidup. Harus ada yang dikorbankan.
Gue cuma mau untuk menjalani hidup ini sepenuhnya, selayak menikmati setiap nafas yang bisa gue tarik dan gue hembuskan.
No comments:
Post a Comment