Ya, ini adalah sesuatu yang memang sudah ingin saya tulis dari kemarin-kemarin tapi baru terkumpul kemauan sekarang. 9 Hari. Jumlah hari saya bersama dia, yang sekarang mengisi waktu kosong saya (meskipun akhir-akhir ini sedang tidak sih ) dan memenuhi isi kepala saya. Cerita mengenai awal bertemu sepertinya akan menyusul. Sebetulnya sih ceritanya kalau ditilik kembali persis seperti cerita sinetron di televisi lokal, tapi tidak bisa saya pungkiri bahwa cerita seperti itulah yang membuat hidup ini indah.
Cerita ini dimulai dari hari minggu tanggal 5 oktober. Ya, pada tanggal ini saya melarikan diri sejenak dari perkuliahan saya. Dimulai dari menaiki travel cipaganti di jalan cipaganti, bandung. Sore itu kondisi jalan cukup lancar di sekitar bandung dan tol cipularang, namun tidak demikian untuk daerah jakarta. Saya turun di daerah megaria, dekat salemba, karena beliau bilang ingin menjemput saya di megaria (belakangan baru saya tahu setelah menilik handphone beliau bahwa beliau mengecek jadwal megaria yang artinya beliau sepertinya merencanakan menonton bersama, untung tidak jadi karena saya tidak bisa membayangkan betapa canggungnya saya saat itu haha). Ternyata ada satu dua ketidakcocokan informasi sehingga akhirnya saya berjalan sedikit menuju arah RSCM karena beliau juga berjalan menuju arah megaria.
Akhirnya tiba saat yang sudah saya nantikan dari bulan lalu. Ya, pertemuan pertama dengan beliau. Pertemuan pertama secara nyata kami terjadi di trotoar depan RSCM. Mungkin adegan pertemuan pertama kami tidak ada adegan kembang api atau ladang bunga mekar, tapi sejujurnya ketika melihat sosok beliau untuk pertama kali, hal yang terlintas pertama adalah “Sweet god, ini adalah sosok orang yang semoga bisa jadi tempat akhir gue”. Dan disaat pandangan pertama itu, saya masih menunduk dan tidak berani melihat muka beliau, canggung. Setelah beberapa obrolan singkat, saya mulai berani memperhatikan fisik beliau. Rambutnya yang sudah diselingi sedikit warna putih, badannya yang menurut saya cukup berisi dan, ehem, seksi, dan senyumnya yang teduh ketika melihat saya… yah apa lagi yang bisa saya harapkan? Oh saya juga sempat memperhatikan caranya berpakaian dan alas kaki yang ia gunakan. Mirip saya. Mungkin benar kata orang kalau kita akan mencari pasangan yang mirip dengan kita. Yah mungkin.
Setelah momen pertama pertemuan, sebetulnya saya sudah berencana pertemuan pertama ingin meraba seluruh tubuhnya dan berkata “Syukurlah, kali ini nyata.” namun tidak jadi karena ini di trotoar hehe. Kemudian beliau bertanya apakah saya sudah makan dan akhirnya langsung kami menuju salah satu restoran cepat saji di seberang jalan daerah salemba dan memesan makanan untuk dibawa pulang. Ada beberapa detail yang saya perhatikan tapi saya abaikan saja, biar ini menjadi konsumsi saya pribadi hehe. Kemudian menaiki angkutan umum hingga sampai kosan beliau. Ya, saya menginap di kosan beliau selama beberapa hari saya di jakarta. Tidak, kami tidak melakukan hal anonoh yang sebegitu anonohnya kok. Masih dalam batas wajar. Kami juga punya komitmen untuk tidak melakukan apapun. Kalau dibilang tidak percaya, toh kenyataannya kalau pasangan berdua dalam satu kamar itu kan yang bahaya kalau tidak tidur, kami kan tidur bareng.
Sampai di kamar beliau (setelah bersiap kalau ditanya dengan jawaban saya adalah sepupu beliau), saya langsung mandi karena beliau sudah mengkomplain agar saya segar. Sudah mandi, beliau sedang menonton sesuatu di laptop. Langsung saya mengeluarkan laptop dan bergabung di sebelah beliau. Seingat saya, beliau sedang menonton sesuatu whitney houston dan saya menonton animasi jepang. Yeah, kami memang berbeda untuk hal ini tapi lucu saja sih hehe. Nah disini saya mulai iseng. Beliau sedang dalam posisi tengkurap. Akhirnya saya mulai meletakkan senderan saya pada punggung beliau. Disini saya merasa lucu karena beliau sepertinya tegang sekali hehe. Menyenangkan mengisengi beliau seperti ini. Akhirnya karena tidak tega dengan beliau, saya melepas senderan saya dan kembali ke laptop saya. Setelahnya, beliau berganti posisi menjadi posisi duduk dan memeluk saya dari belakang. Perasaan saya pada saat itu adalah berdebar-debar. Dunia serasa berhenti dan saya ingin terus berada pada posisi ini untuk selamanya. Satu keadaan yang sederhana, tapi membuat saya cukup untuk mengetahui bahwa saya tidak sendiri di dunia ini. Satu momen dimana saya merasa terhubung dengan beliau.
Kemudian saya mengelus kepala beliau dan sudah. Akhirnya kami tertidur dengan laptop yang dibiarkan begitu saja. Begitulah hari pertama pertemuan saya dengan beliau. Meskipun beliau seperti anak kecil yang sudah tertidur jam 9 malam, tapi apalagi yang bisa saya minta dari beliau? Meskipun saya seperti jomblo setelah lewat jam 9 malam karena ditinggal tidur, tapi saya sudah terlanjur sayang. Sudah terlanjur merasa nyaman. Sudah terlanjur merasakan bahwa semua akan baik-baik saja selama saya memiliki beliau. Ah sudahlah, ditinggal tidur jam 9 hanya sebuah harga kecil yang harus saya bayar untuk sesuatu yang lebih besar. Ya, keberadaan beliau di hidup saya.
No comments:
Post a Comment