Ya, gunung everest. Besar, luas, dan dingin. Tantangan yang sangat berbahaya, namun memberikan kepuasan ketika sudah bisa diselesaikan sampai akhir. Memang kenangan yang indah ada ketika sampai di puncak, namun banyak juga kan kenangan yang ada ketika mendaki, ketika bersusah-susah berusaha mencapai puncak dan tujuan akhir? Senang, susah, sedih, emosi, dalam sebuah perjalanan panjang pasti semua hal itu terjadi.
Terkadang sering merasa tidak adil. Ketika mendaki gunung dan berkoar. Seolah gunung ini tahu segala masalah, kesusahan, dan kebahagiaan yang dirasakan ketika mendaki. Tapi gunung tersebut hanya diam. Yah memang namanya juga gunung, tidak memiliki kemampuan verbal. Memang harus bisa melihat bagaimana gunung tersebut dari kondisi sekitarnya. Bagaimana kondisi vegetasi, kondisi rantai makanan, dan sebagainya. Namun apa daya bila tidak ada kemampuan dasar untuk mengetahui itu semua? Akses mencapai mengetahui dan mengenali gunung yang diam mendengarkan keluh kesah tidak ada satupun. Sebagai pendaki, perasaan untuk mengetahui gunung selalu ada. Karena semua gunung itu unik masing-masing. Namun saat ini saya sedang mendaki satu gunung ini dan memang ingin melihat puncak akhirnya. Tidak mungkin kan tengah-tengah mendaki satu gunung tiba-tiba berpindah ke gunung lain?
No comments:
Post a Comment