Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Wednesday, January 29, 2014

Tersadar

“Huft” ucapku pagi hari ketika terbangun. Entah ini sudah hari keberapa di bulan keempat semenjak kepergian pak dokter ke kalimantan. Aku sudah tidak ingat berapa kali argumen dan pertengkaran yang kami lewatkan. Sudah terlalu banyak. Bahkan, entahlah, antara sudah mau menyerah dan lelah. Sungguh pikiran yang terlalu “baik” untuk memulai hari.

Hari ini adalah hari ketiga dari semester baru. Kuliah hari ini memang kosong dan aku memang sudah berencana untuk berenang yang sudah tertunda berhari-hari karena cuaca Bandung yang tidak menentu. Untungnya, hari ini terlihat cuaca sedikit cerah dibanding beberapa hari kemarin. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengajak kedua temanku untuk menemaniku berenang.

Ternyata, kedua temanku baru bisa berenang sore hari. Berhubung aku malas bila tidak ada teman, aku iyakan saja dan sambil menunggu aku melanjutkan membaca komik dan bermain game. Seperti hari-hari sebelumnya, aku selalu mengharapkan ferry untuk mencapai diriku. Aku lelah hanya berjuang sendiri untuk mencapainya. Bukan artinya aku bosan, tapi… hanya lelah saja. Mungkin aku terlalu lelah berharap dan dikecewakan.

Friday, December 6, 2013

Hancur dan Kembali

Sembari menunggu jawaban dari pak dokter, aku bersiap-siap untuk mempresentasikan rencana peneletian thesisku. Aku berangkat dengan semangat dari kost-kostan ku yang hanya berjarak 10 menit dari kampusku dan aku sampai dengan kondisi mepet pukul 1 siang.

Pertemuan dengan ketiga dosen dan dua junior berlangsung begitu cepat. Sungguh tidak terasa waktu berlalu 2 jam dan sepanjang itu aku hanya dihabisi dengan pertanyaan dan pertanyaan. Kesimpulan akhir dari pertemuan itu hanya satu : aku harus merombak ulang desain penelitianku lagi. Bukan hal yang menyenangkan untuk terjadi mengingat pada Juli tahun depan aku harus sudah lulus.

Dengan gontai aku keluar dari ruang pertemuan dan langsung pulang. Lemas sekali rasanya. Ingin sekali bersenang-senang saat ini namun kondisinya sekarang aku sudah tidak tahu harus bersenang-senang dengan siapa. Menjadi mahasiswa yang mengambil program fasttrack memang baik untuk rencana masa depan, namun, dengan resiko tidak memiliki teman karena kebanyakan teman-teman dari satu angkatan yang sama sudah meninggalkan kampus untuk mengejar mimpinya masing-masing.

Disaat seperti ini aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Ingin rasanya mengeluh ke pak dokter namun sepertinya ia sedang sibuk. Meskipun ia bilang ia sudah selesai jaga, tapi sepertinya tidak ada bedanya karena sepertinya ia terlalu sibuk untuk menanggapi pesan instanku yang sebetulnya penuh berisi kode ingin bercerita. Terlebih ketika ia akhirnya membalas, ia hanya berkata bahwa ia diajak untuk bermain bulu tangkis oleh rekan sejawatnya. Yah sudahlah, mau bagaimana lagi memang aku siapa bisa menuntut perhatian dan atensinya 24 jam penuh? Penat, sedih, lelah, dan bingung. Bercampurnya semua perasaan itu membuatku memutuskan untuk tidur lebih cepat. Daripada aku menangisi keadaan? Lebih baik tidur.

Jam 7 malam hingga jam 12 malam, ternyata aku hanya tertidur selama 5 jam. Masih dengan perasan sedih dan bingung. Bayangkan saja, rencana penelitian yang sudah disusun semenjak semester 6, dihancurkan begitu saja di semester 9. Dimana semester 10 sudah harus lulus. Terlebih ini penelitian thesis yang mengharuskan skalanya lebih dari skala sarjana. Dalam 6 bulan? Pak dokter terakhir mengatakan “Ah gua yakin sih lo bisa”. Memang, karena kalau dari diri sendiri tidak yakin, mau bagaimana? Ia juga berkata “Semangat ya Dan.” Sebuah kalimat yang sederhana. Memang cukup membantu, tapi sejujurnya bukan itu yang kuharapkan.

Tengah pergantian hari yang sudah aku yakin pak dokter itu sudah tertidur lelap, aku memutuskan untuk mengerjakan tugas saja hingga pagi. Pada detik ini aku sadar betapa menyedihkannya diriku. Ketika sedih, ketika terpuruk, pelarianku bukanlah bermain seperti orang-orang pada umumnya melainkan menenggelamkan diriku pada pekerjaan. Mungkin kebiasaan inilah yang membuatku bisa sampai di keadaan sekarang dan dinilai pekerja keras oleh teman-temanku. Tapi bagaimanapun juga aku kan masih manusia. Aku perlu tempat untuk mencurahkan perasaan. Tapi apa daya kalau tidak ada orang yang bisa dicurahkan? Lagipula dasarnya aku tidak suka merepotkan orang. Aku tetap berprinsip “Lebih baik aku meninggal sendirian dan membusuk daripada merepotkan orang lain di rumah sakit”.

Semalam suntuk sudah aku berkutat dengan tugasku yang seharusnya aku selesaikan dari bulan lalu. Ajaib, dalam 2 jam, tugas yang harusnya aku selesaikan dari bulan lalu selesai begitu saja. Dari satu tugas beralih ke tugas yang lain, namun sebelumnya aku meminta pendapat pada Dini, teman akrabku semenjak aku mengerjakan skripsiku. Seperti biasa, dari awalnya aku meminta pendapat, selalu berakhir dengan curhat dan membicarakan kehidupan.

Sembari curhat dengan Dini, aku jadi teringat saat pertama aku bertemu pak dokter. Kurang lebih adalah 3 minggu setelah kami berkenalan dari jejaring sosial. Selama 2 minggu, kami banyak bercerita mengenai diri kami. Mengenal satu sama lain lebih jauh. Tepat pada hari ke 5 setelah berkenalan, pak dokter iseng mengajakku video call dengan yahoo messenger. Aku tidak terlalu terperangah karena bagian terperangah sudah diambil ketika pertama kali pak dokter mengirimkan fotonya melalui pesan instan. Saat itu aku cukup kaget karena penampilan fisik pak dokter tidak seperti yang kubayangkan. Namun segera kuhapus pikiran itu karena pada dasarnya aku merasa nyaman berdiskusi dengannya. Lagipula ini kan baru bertemu di dunia maya, karena secara nyata, biasanya orang berbeda.

Dari video call demi video call, aku makin merasa nyaman dengannya. Aku tidak berpikir macam-macam namun sempat terbesit di pikiranku bahwa sepertinya menyenangkan memiliki pasangan yang pengertian dan asik untuk berdiskusi seperti ini. Namun disaat itu juga, langsung kubuang jauh-jauh pikiranku. Ah, kami berdua sama-sama pria. Macam apa pikiran ini. Meskipun aku tidak termasuk orang yang kuno, tapi tetap saja aku merasa salah akan yang seperti ini. Lagipula pada awalnya aku kan hanya berharap untuk menjadi teman saja.

3 Minggu setelah perkenalan pertama, akhirnya pak dokter berkata bahwa ia akan ada urusan di kota yang berjarak dua jam dari kotaku itu. Ternyata selama ini, pak dokter sedang pulang ke kota asalnya yang berada di pulau sumatra. Ya, pak dokter ini adalah peranakan minang namun tidak tinggal didaerah tersebut. Semangat mendengar hal tersebut, kontan aku mengajak untuk bertemu. Pak dokter juga ternyata sudah merencanakan hal ini. Satu demi satu rencana dibuat, akhirnya tersusunlah rencana bahwa kami akan bertemu, dan aku akan menginap di tempatnya selama 9 hari. Ya, kami akan bersama selama 9 hari. Mungkin akan terdengar aneh, tapi pada dasarnya aku senang untuk bermain dan memiliki quality time bersama sahabatku.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang. Aku berangkat menaiki travel dan turun di daerah dekat kampus pak dokter ini. Aku turun di dekat teater yang berada tepat disebelah rumah sakit kampus pak dokter. Aku cukup familiar dengan daerah ini karena sewaktu kecil aku sering ke daerah ini bersama kedua orang tuaku. Aku sampai pukul 7 malam dari janjian dengan pak dokter jam 6 karena terjebak macet di daerah keluar jalan bebas hambatan. Pak dokter menyuruhku berjalan menuju arah kampusnya untuk mempersingkat waktu.

Setelah sampai di daerah depan kampusnya, aku duduk menunggu karena mengingat baterai telepon genggamku sudah mau habis. Sekitar 5 menit, aku melihat sosok yang sepertinya adalah pak dokter. Aku menunduk karena malu dan ternyata memang benar. Itu memang dia. Ketika bertemu, kami sedikit berkenalan singkat. Sambil aku mengulurkan tangan “Danu” yang kemudian dibalas dengan uluran tangannya “Ferry”. Setelah itu kami sedikit tertawa kecil mengingat lucunya sudah sebulan kami kenal, banyak bercerita, namun ini adalah pertama kalinya kami saling mengetahui sosok satu sama lain.

Setelah berkenalan, aku terdiam karena masih merasa canggung dan hanya menunduk. Mungkin agak aneh bagi orang lain yang melihat. Kami dua pria dengan postur tubuh yang besar, berdiri diam di pinggir jalan dan yang satu hanya menunduk. Disaat ini juga aku mengamati sosok ferry. Posturnya yang lebih tinggi dariku, warna kulitnya yang lebih hitam dari warna kulit orang Indonesia pada umumnya, rambutnya yang sudah agak putih beruban terlepas dari umurnya yang hanya terpaut dua tahun dariku, cara berpakaiannya yang santai, bahunya yang tegap, kepalanya yang agak besar, dan aroam tubuhnya yang baru mandi terlihat dari rambutnya yang masih sedikit basah dan aroma segar sabun bercampur sedikit aroma tubuhnya yang tidak bau terlihat dari keringat yang sedikit kelihatan.

“Lapar nggak dan? makan yuk. McD aja tuh.” katanya sambil memecah keheningan dan membuyarkan pengamatanku. “Boleh.” Jawabku singkat dan pelan. “Kenapa sih? kok nunduk aja? diem terus gini? ada yang salah ya sama gua? biasa kan lo rame.” tanyanya menyelidik. “nggak kok, nggak kenapa-kenapa. cuma… canggung aja. takut jatuh kalau ga liat jalan” jawabku sambil tetap menatap jalanan dan menyebrangi zebra cross menuju McD. “Ah apa sih canggung-canggung hahaha.” candanya renyah.

Sesampainya di McD, kami memesan makanan untuk dibawa pulang. “Dibungkus aja gimana fer? Mau mandi. gerah banget ga biasa. kota gw kan biasanya dingin.””oh yaudah, mas. take away aja ya.” ucapnya sambil memesan. Ketika sudah akan membayar, aku mengeluarkan uang 50.000 untuk membayar makananku yang langsung ditepis olehnya. “udah nggak usah.” dan lansung ia mengeluarkan uang untuk membayari makanan kami. Aku merasa keberatan karena aku terbiasa dengan makan-sendiri-bayar-sendiri. Setelah sedikit berargumen “enggak usah ih, nanti gw ganti deh.” dia dengan setengah memaksa “udah enggak apa-apa. ini gua maksa.” dan aku sudah tidak bisa melawan dengan kalimat itu dan terpaksa aku menurut saja.

Dari McD kami berjalan menuju angkutan umum dan menuju ke kost-kostan pak dokter. Sesampainya di depan pagar kost-kostan, pak dokter berhenti dan berputar menghadapku “eh tas lo sini aja gua yang bawa. ga enak sama yang jaga kosan”. Aku sedikit bingung namun yasudah aku mengikuti saja bagai kerbau dicucuk hidungnya. Setelah masuk aku melihat ada penjaga kostnya dan memberikan senyum sopan. Kami langsung menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.

Sesampainya di kamar, aku langsung membuka tasku yang sudah diletakkannya ke pojok kamar. Aku mengambil alat mandi, handuk, dan baju barong favoritku untuk tidur. “Fer, gw mandi dulu aja ya? makannya bareng lah tungguin dulu.” kataku sembari menuju kamar mandi karena gerah. Aneh memang aku langsung seperti berada dirumahku sendiri karena sesantai itu. Toh aku juga sudah nyaman dengan pak dokter ini kenapa harus malu-malu lagi? “Oh yaudah, jangan lama-lama ya. Udah laper banget ni.” katanya membalas ucapanku. “Ok”.

Seusai mandi, aku melihatnya sudah tiduran di kasur sambil bermain laptopnya. Aku melirik makanan masih tersimpan rapat. Orang ini sopan juga mau menunggu meskipun katanya sudah lapar sekali, pikirku dalam hati. Melihatku yang sudah selesai mandi, ferry langsung menutup laptopnya dan menuju ke lantai untuk makan. Selesai aku beres-beres alat mandiku, ferry seperti sudah menyiapkan makanan untuk disantap. Langsung aku bergabung dan kami mulai makan. Aku sedikit tergelitik karena ternyata pelayan memberikan satu nasi lebih dan ferry langsung menyerahkan nasi itu kepadaku. “Buat lo aja, makan lo banyak kan hahaha” aku sedikit enggan menerimanya, namun yah tidak ada salahnya untuk menerima kebaikannya. Memang aku tahu aku terlalu pasrah, tapi senyum dan tawa renyahnya selalu membuatku tidak tega untuk menolaknya.

Seusai makan, ia merapihkan semua sisanya dan kembali menuju kasur lalu membuka laptopnya kembali. Aku pun mengikuti langkahnya mengambil laptopku dan bergabung dengannya di kasur dengan ukuran queen size nya itu. Kami masing-masing sibuk dengan hiburan kami masing-masing. Ia dengan video pemusik kulit hitamnya di youtube dan aku dengan video animasi jepangku.

Sesekali kami mengobrol dan bercanda. Sampai akhirnya aku tersadar, ini tidak baik. Kami bersama namn tidak saling mengobrol dengan baik. Akhirnya aku memutuskan untuk menindih punggungnya dengan sikutku sambil bercanda dan melihat video apakah yang sedang ia tonton. Namun ternyata memang bukan seleraku, setelah ia menjelaskan video tersebut, aku kembali menonton animasi jepangku sambil tiduran.

Lelah dengan posisi tiduran, aku kembali pada posisi duduk. Dengan sudut mataku, kulihat ferry bangun dan mengganti posisinya menjadi posisi duduk sepertiku namun tidak kuperdulikan. Masih asik dengan animasi ku, tiba-tiba ferry bergerak mundur dari sampingku. Saat itu jantungku terasa seperti berhenti sesaat karena saat itu, ferry memelukku dari belakang dan membenamkan wajahnya pada pundak kiriku.

“Fer?”

Tuesday, December 3, 2013

Tick-tock

Give me your, give your attention baby

Lagu Treasure dari Bruno Mars terus terdengar mengalun samar dari headset yang tergelatak di samping laptopku. Huft, rasanya penat sekali pagi ini harus mengerjakan slide presentasi yang akan digunakan siang ini. Belum lagi banyaknya distraksi yang muncul akibat harus menggunakan sambungan internet untuk mencari bahan gambar slide ini. Belum lagi pesan instanku yang belum dibalas oleh pak dokter satu itu yang sedang berada di pulau seberang sana. Sepertinya ia sedang sibuk dengan pasiennya.

Siang ini, tepatnya pukul 1 siang, aku harus menghadiri pertemuan dengan dosen-dosen itu. Dosen pembimbingku yang berasal dari jurusan Biologi, dosen pembimbing lain dari jurusan Teknik Fisika dan dosen dari Teknik Industri. Hal ini harus dilakukan karena sepertinya dosen-dosen itu ingin melakukan riset gabungan dan kebetulan ada seorang mahasiswa magister yang masih semangat untuk mengerjakan proyek dan riset gabungan mereka. Yah, aku sendiri sih tidak keberatan untuk melakukan ini. Hanya saja… semalam aku kekurangan tidur karena teman kamar sebelah sedang mengerjakan tugasnya dan menimbulkan suara yang cukup mengganggu hingga jam 2 pagi.

Kamar ini memang tidak memiliki jam dinding. Aku hanya beracuan pada jam laptopku atau jam telepon genggamku. Rasanya lambat namun cepat sekali waktu ini berlalu. Cepat karena seiring aku terdistraksi menjelajahi dunia maya, lambat karena menunggu balasan dari pak dokter satu itu yang sepertinya sedang sibuk.

Pesan terakhir darinya hanyalah sebuah foto yang berisi kertas dan catatan kecilnya. Kemudian setelah foto itu ia menanyakan apakah tulisannya dapat dibaca atau tidak. Mungkin bagi beberapa orang hal ini adalah hal kecil. Tapi bagiku, hal kecil inilah yang menghubungkan antara aku dan ia. Kalau disuruh untuk mendeskripsikan, aku sendiri bingung bagaimana hubunganku dengannya. Namun secara jelasnya aku sadar aku membutuhkannya sebagai tempat bersandar. Aku sendiri tidak terlalu mengerti bagaimana ia menganggapku, tapi toh sejauh ini kami baik-baik saja.

Hari ini belum genap satu minggu semenjak kepergiannya ke pulau seberang. Ya, pak dokter ini diharuskan mengalami program internship di kalimantan selama setahun. Pak dokter yang selalu cerewet akan kesehatanku dan kebiasaanku yang agak cuek terhadap diriku sendiri. Aku sendiri sih seringkali iya-iya saja ketika dia sudah mulai rewel mengingatkanku makan dan menyindir kebiasaanku nongkrong malam-malam bersama teman-teman satu jurusanku sambil sedikit minum-minum. Namun ternyata meskipun belum genap satu minggu aku sudah merasa kehilangan pak dokter ini. Memang sih kerewelannya tetap berjalan melalui pesan instan. Namun tetap saja beda rasanya karena aku tahu, sekarang tidak sama seperti sebelumnya yang sewaktu-waktu ia bisa muncul dihadapanku dan memarahiku.

Sebetulnya aku mengenal si pak dokter ini belum terlalu lama. Kurang lebih dari awal september. Kami pertama bertemu dari jejaring sosial. Aku sendiri waktu itu sedang sakit karena terlalu banyak minum dan tertekan karena banyak masalah. Kemudian entah darimana datangnya, aku mencoba iseng memasukkan opiniku dalam suatu diskusi. Ini hal yang sangat tidak lazim untuk aku yang umumnya adalah pembaca pasif dalam suatu diskusi. Mungkin karena aku tidak terbiasa untuk menerima kritikan tanpa melihat wajah orang yang bersangkutan.

Tepat setelah aku menuliskan opiniku, kritikan langsung datang. Seperti biasa, aku hanya menanggapi seadanya dan berusaha untuk tidak terlalu mencolok, menghindari konflik. Kita semua tahu bisa seliar apa hinaan orang dalam sebuah topik diskusi dunia maya. Namun tiba-tiba, kotak pesanku menunjukkan angka 1 yang menandakan ada pesan pribadi yang masuk. Dan ketika kubuka kotak pesanku, ya, itu adalah pak dokter yang memberikan kritikan terhadap opiniku. Kritikannya pelan, sopan, dan yakin. Sama sekali tidak ada kesan mengintimidasi.

Awalnya aku hanya membalas seadanya. Pada balasan ketiga, si dokter ini mulai menanyakan mengenai diriku. Pada dasarnya aku bukan seorang yang suka berbohong. Mungkin memang naif, memberikan data pribadi di jejaring sosial. Namun aku rasa tidak masalah karena memang dari kelihatannya orang ini asik untuk diajak diskusi. Aku memberikan namaku dan kota domisiliku yang kemudian dibalas dengan namanya dan kota domisilinya. Dari cara berbahasanya, aku menangkap ia seumuran denganku. Kemudian ia membalas dengan menanyakan umur dan pekerjaan. Dengan jujur aku menjawab umurku dan perguruan tinggi negeriku. Pak dokter ini kemudian memberi tahu bahwa umur kami hanya berbeda dua tahun dengan ia lebih tua dan ia adalah dokter dari sebuah perguruan tinggi negeri di kota yang berjarak dua jam dari kotaku.

Diskusi melalui pesan ini terus berlanjut dan akhirnya aku merasa nyaman berdiskusi dengannya. Sepertinya ia juga begitu dan ia mulai menanyakan nomor pepesan instanku. Kujawab dengan jujur dan ia juga memberikan nomornya. Memang terkesan naif, mendapati teman dari jejaring sosial. Namun kenyataannya sekarang pak dokter ini menjadi teman diskusi yang jauh lebih berharga dari sahabatku yang pernah mengecewakanku.

“piip piip”

Telepon genggamku berbunyi membuyarkan lamunanku akan perkenalan pertamaku dengan pak dokter ini. Kubuka pesan singkatku yang berbunyi “Nanti jadi bertemu?” yang berasal dari dosen pembimbingku. Astaga. Tanpa sadar sudah nyaris jam 11 siang. Ternyata lamunanku cukup menyita waktu. Untungnya sebelum aku melamun slide yang kubuat sudah nyaris selesai.

Dengan sedikit modifikasi, akhirnya slide yang kubuat dari tadi pagi selesai. Sebetulnya sih hanya mengganti desain slide dari terakhir lamunanku buyar. Namun karena sudah malas kuanggap selesai saja. Toh seharusnya sudah mencakup semua hal yang perlu ku presentasikan nanti.

Setelah data presentasi kusimpan, aku melihat telepon genggamku dan menemukan ada pesan singkat dari pak dokter. “Gua mau cerita nih hahaha”. Singkat namun jelas, aku tahu kami sudah sama-sama terbiasa akan keberadaan satu sama lain. Aku senang karena akhirnya ada orang yang membutuhkan kehadiranku.

Setelah membalas pesannya dengan “Kenapa kenapa? sini sini cerita.”, aku mulai berpikir kembali. Teringat bahkan hari ini belum genap 3 bulan dari perkenalan pertama kami, namun aku sudah bisa percaya sampai sedalam itu padanya. Memang aneh, tapi kita tidak pernah bisa tahu siapa yang akan membuat kita nyaman dan bisa menerima kita apa adanya.

Perkenalan dan Pengaturan Latar : Roman

Ini awal dari sebuah tulisan yang akan bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Mungkin pemilihan latar cerita dan tokoh akan ada kemiripan dengan beberapa orang yang kenal saya. Tapi percayalah, saya hanya mencampur berbagai cerita yang pernah saya alami dan saya dengar menjadi satu cerita. Sederhananya, ini adalah cerita tentang seorang laki-laki, dengan umur mendekati perempat hidup dan hidup di daerah yang cukup berkembang di Indonesia.