“Huft” ucapku pagi hari ketika terbangun. Entah ini sudah hari keberapa di bulan keempat semenjak kepergian pak dokter ke kalimantan. Aku sudah tidak ingat berapa kali argumen dan pertengkaran yang kami lewatkan. Sudah terlalu banyak. Bahkan, entahlah, antara sudah mau menyerah dan lelah. Sungguh pikiran yang terlalu “baik” untuk memulai hari.
Hari ini adalah hari ketiga dari semester baru. Kuliah hari ini memang kosong dan aku memang sudah berencana untuk berenang yang sudah tertunda berhari-hari karena cuaca Bandung yang tidak menentu. Untungnya, hari ini terlihat cuaca sedikit cerah dibanding beberapa hari kemarin. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengajak kedua temanku untuk menemaniku berenang.
Ternyata, kedua temanku baru bisa berenang sore hari. Berhubung aku malas bila tidak ada teman, aku iyakan saja dan sambil menunggu aku melanjutkan membaca komik dan bermain game. Seperti hari-hari sebelumnya, aku selalu mengharapkan ferry untuk mencapai diriku. Aku lelah hanya berjuang sendiri untuk mencapainya. Bukan artinya aku bosan, tapi… hanya lelah saja. Mungkin aku terlalu lelah berharap dan dikecewakan.
Seperti biasa, ferry hanya menghubungiku seadanya. Aku tahu ia sibuk dengan pasien-pasiennya. Tapi, sesibuk itukah hingga untuk menghubungiku seakan lebih sulit daripada menaiki bus lintas sumatra? Aku hanya bisa berpikir bahwa ia memang tidak meletakkanku sepenting itu dalam hidupnya, karena berdasarkan logikaku, sesibuk apapun aku, pasti masih membalasnya dan tidak lupa memberi kabar. Mungkin dasar ini juga yang membuatku bisa menarik kesimpulan bahwa ia belum siap berkomitmen, memberikan waktu dalam hidupnya untukku.
Aku merasa sedih kalau dipikir lagi, seolah, aku harus mengemis cintanya. Bukan karena ia memang mau memberikan karena ia juga menyayangiku, tapi seolah hanya sebuah kewajiban. Ya, pikiran buruk seperti ini selalu berkeliaran dalam kepalaku ketika ia sesulit itu untuk menghubungiku. Bahkan aku sempat merasa ingin menyerah.
Terlepas dari itu semua, sekarang aku berada dalam tahap lelah. Ya, aku lelah untuk mengejar. Lelah untuk mengemis. Aku tahu dan ia juga sudah memberitahuku bahwa ia tidak bisa memberikan perhatian seperti dulu lagi ketika ia belum ke kalimantan. Aku tidak mempermasalahkan jumlah perhatian disini. Aku hanya takut, karena sifat dasarku yang menginginkan perhatian. Aku takut bila ia tidak memenuhinya dan ada orang lain yang datang, aku takut aku tidak akan bisa menjaga janjiku padanya.
Jam akhirnya menunjukkan pukul 4 sore. Aku akhirnya berangkat menuju kolam renang dan bertemu dengan kedua temanku disana. Sebetulnya aku cukup senang karena bisa “cuci mata” di kolam renang berhubung ternyata anak-anak tingkat 1 sedang mengambil nilai untuk mata kuliah olahraga. Aku hanya diam-diam saja memperhatikannya, takut ketahuan oleh kedua temanku.
Benar-benar segar rasanya lahir dan batin setelah berenang sore ini. Meskipun hanya sekitar setengah jam, tapi bisa bergerak itu memang menyenangkan. Apalagi banyak bocah-bocah yang tidak berwajah bocah, namun masih terlihat polos. Ah pasti menyenangkan mengisengi yang seperti itu 
Tepat setelah keluar dari tempat bilas, aku melihat telepon genggamku. 3 Messages. Dari ferry dan temanku Nia. Yah seperti biasa, ferry berbasa-basi namun aku sudah terlanjur malas untuk menanggapi. Mungkin ini adalah saat dimana aku membalas semua perlakuan dinginnya agar ia tahu bagaimana rasanya menjadi diriku. Aku tahu membalas tidak akan membawaku kemanapun, namun aku merasa ia perlu tahu bagaimana rasanya membutuhkanku, setelah ia mengerti bagaimana rasanya dicintai dan mencintai orang lain.
Pesan lainnya dari Nia, ia mengajakku makan sore. Kupikir, tidak ada salahnya dan sepertinya menyenangkan karena sudah lama aku tidak bercengkrama dengannya. Aku setujui ajakan makan dekan kost-kostanku. Makan sore itu menyenangkan seperti biasa, namun nia sempat bercanda yang membuatku sedikit tertegun. “Eh, lo tau enggak, kepanjangan LDR?” “Apa?” “Lo Doang yang Relationship! Hahaha!” Sial si nia pikirku dalam hati. Tapi sebetulnya, menurutku tidak salah juga sih apa yang dikatakan nia.
Setelah makan, aku melihat pesan dari ferry masuk lagi ke telepon genggamku, biarkan sajalah pikirku dan langsung menuju rumah. Sesampainya dirumah, aku baru ingat belum bilas dari kolam renang. Pantas saja tubuhku gatal. Langsung saja aku mandi dan setelah mandi, aku merasa sangat mengantuk. Dan tanpa sadar, aku tertidur begitu saja.
Aku ingat mimpi itu. Dimana aku bermimpi bertemu ferry yang sedang menumpang menginap dirumahku bersama teman-temannya yang menurutku memonopoli ferry dariku. Di mimpi itu aku dan ferry tetap bertengkar seperti biasa dan menjaga pencitraan kami depan teman-temannya. Namun begitu teman-temannya sudah tertidur, ia keluar dari kamar dan langsung memelukku. Aku pun membalas pelukkannya. Hangat, penuh kasih sayang. Dan saat itu juga aku bisa merasakan kehangatanku yang melingkupinya. Aku masih ingat hingga detik ini wajahnya yang tenang ketika memelukku.
Tepat setelah itu, aku terbangun. Aku kaget merasakan butiran air mata disudut mataku. Ternyata memang, sekesal apapun aku padanya, aku memang mencintainya dari dalam hatiku. Mungkin memang masih berat untuk sekarang, tapi selama aku percaya aku memiliki perasaan ini, seharusnya semua akan baik-baik saja.
Aku bersyukur bermimpi seperti itu. Karena menurutku, mimpi adalah perlambangan alam bawah sadar dan disitu aku melihat sedalam apakah perasaanku padanya.
No comments:
Post a Comment