Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Monday, February 15, 2016

Review Film : A Copy of My Mind (2015)

Sebuah film lainnya dari Joko Anwar. Film A Copy of My Mind bercerita tentang Sari (Tara Basro), gadis kelas menengah kebawah yang bekerja sebagai petugas facial di salon sederhana sekaligus seorang penggemar DVD bajakan dan Alek (Chicco Jerikho), seorang pembuat teks film bajakan. Sesuai dengan plotnya masing-masing, keduanya bertemu karena DVD bajakan dan menjalin cerita.

A Copy of My Mind (2015)

Setelah kemarin menonton di layar lebar, saya sangat bisa menyimpulkan film ini berdurasi panjang. Usut punya usut, ternyata memang film ini berdurasi 117 menit -- 27 menit lebih panjang dari film kebanyakan. Terlebih lagi, film ini memaksa penonton untuk mengikuti cerita kehidupan Sari dan Alek. Dimana kehidupan Sari yang monoton (yang pastinya juga dialami kebanyakan pekerja di Jakarta) dan kehidupan Alek yang cenderung lebih bebas namun tetap dengan tuntutan mencari uangnya (yang umumnya dialami kebanyakan pekerja paruh waktu). Secara umumnya, saya membagi film ini menjadi 4 bagian. Bagian awal yang berisi rutinitas Sari, bagian tengah yang berisi cerita Sari dan Alek, bagian ketiga yang berisi klimaks, dan bagian keempat yang berisi konklusi sekaligus penutup.

Untuk bagian pertama, jujur saya merasa sangat lelah menonton bagian ini. Kamera yang tidak stabil (terlihat tidak menggunakan kaki tiga), fokus gambar yang seringkali berpindah, pengambilan gambar yang sering mendekat dan menjauh serta suara bising jalan raya yang terdengar keras merupakan faktor-faktor yang membuat rasa lelah semakin terasa. Di satu pihak, saya merasa kesal dengan teknik pengambilan gambar disini. Tapi disisi lain, saya juga sadar apakah mungkin memang inilah yang ingin disampaikan oleh sang sutradara : suasana Jakarta yang membuat lelah, memusingkan, bising dan sebagainya. Karena sebagai pekerja di Jakarta, saya sangat paham kelelahan yang harus dirasakan Sari. Kalau memang hal inilah yang ingin disampaikan para pembuat film, saya akui pengemasan ini sukses ditangkap oleh film ini.

Bagian kedua adalah bagian Sari dan Alek bertemu. Selayaknya pasangan kekasih, ada pertemuan, kecocokan, hingga nafsu yang memburu. Disini saya melihat pembawaan Sari yang terlihat agak murahan. Baru juga berkenalan, tapi mudah saja percaya pada Alek dan tidak lama sudah masuk adegan bersenggama. Adegan bersenggamanya sendiri tidak menampilkan secara grafis, namun dengan gerakan punggung dan adegan ciuman yang perlahan. Bagi kalian yang memang ngefans baik dengan Chicco Jerikho ataupun Tara Basro, anggaplah ini jawaban dari doa kalian. Tidak saya pungkiri, tubuh Chicco terlihat bagus, tanpa lemak berlebih dan lekuk Tara Basro yang mulus. Tapi yang saya suka adalah, saya tidak merasa bersemangat ataupun jijik terhadap adegan ini, melainkan penasaran bagaimana kelanjutan dari hubungan mereka setelah adegan tersebut. Mungkin ini juga yang merupakan potret dari kebanyakan perempuan di Jakarta, mengapa banyak sekali kasus aborsi dan sebagainya. Hal yang seringkali para orang tua berusaha cegah, karena semudah itulah hubungan intim bisa terjadi.

Bagian ketiga merupakan bagian yang membuat saya merasa bergidik ngeri. Jujur saya tidak menyangka kalau film ini akan memiliki bahasan politik. Kalau hanya melihat dan mengikuti film ini dari awal, penonton juga hanya akan merasa film ini adalah cerita roman antara Sari dan Alek. Memang sih, di awal film ini juga sudah dimasukkan setting kampanye presiden Indonesia, tapi karena fokus cerita ada di Sari, latar tersebut hanya menjadi pemanis dalam "sengsaranya pekerja jakarta". di bagian ini, Sari mendapati fakta mengenai kotornya politik negara. Pada awalnya ia bahkan tidak tahu kalau fakta yang ia dapatkan adalah sebuah fakta politik, pikirnya, hal ini hanyalah diskusi biasa hingga Alek memberitahunya. Jujur, kalau saya berada dalam posisi Sari, saya sendiri akan bingung karena saya sendiri bukanlah pemerhati politik. Mau tokoh A melakukan XYZ, saya pasti akan mempertanyakan maksud dari hal ini dan siapakah A. Selayaknya anak kecil yang disuguhkan film syur dan bertanya apakah yang film tersebut lakukan.

Pada bagian akhir, Sari melakukan tindakan yang penonton sudah harapkan. Mungkin beberapa penonton memang terpikir untuk melakukan tindakan yang benar, dan merasa bahagia ketika Sari melakukan hal tersebut. Tapi pada akhirnya, menurut saya pribadi, film ini membiarkan penontonnya berpikir bagaimana kelanjutan tindakan Sari. Seperti gasing yang berputar dalam film Inception, sebetulnya inti permasalahan bukanlah di tindakan yang Sari lakukan dan hasilnya, tapi justru di hal lain yang malahan menjadi latar belakangnya.

Saya sendiri tidak terlalu banyak menggali mengenai film ini. Tapi beberapa dialog dengan teman menyampaikan beberapa fakta yang perlu di konfirmasi seperti film ini tidak memiliki naskah dialog, durasi pengambilan gambar yang dipercepat karena dikejar preman glodok, dan lain sebagainya.

Kesan akhir saya dari film ini ada 2. Satu adalah saya menganggap film ini bagus karena membuat berpikir dan potret segi kota Jakarta dan tokoh didalamnya dipotret dengan baik, dan kedua adalah film ini berhasil membuat saya sedikit merasa melek akan adanya kekotoran politik yang selama ini selalu saya abaikan. Mungkin pelaku politik kotor ini tidak dijelaskan siapa, tapi fakta seperti ini memang terjadi di Indonesia dan sedikit membuat saya merasa takut, pion siapakah kita?

Sunday, January 17, 2016

Review Film : The 5th Wave (2016)

Sudah lama sekali loh rasanya semenjak terakhir menulis review film. Terakhir gue menulis adalah di dilihatulang.blogspot.com dimana tadinya gue berpikir untuk meletakkan semua tulisan review disana, tapi gue merasa itu merepotkan. Untuk apa ada fungsi tag dan filter, hah? Yah intinya berikut pendapat gue tentang film The 5th Wave (2016) yang baru saja gue tonton di bioskop 3 jam yang lalu.

The 5th Wave (2016)

Selayaknya film Hollywood pada umumnya, film ini dimulai dengan bumper dan et cetera et cetera lainnya. Film ini berpola maju -> mundur -> maju lagi tapi sudah begitu saja tidak mundur lagi. Film ini dibintangi Chloe Moretz dan beberapa aktor lain yang gue enggak hafal namanya, tapi gue cuma bisa bilang there's this one hot guy and he's doing topless scene, so beware girls and guys whose turning that way! Oh iya, film ini berdasarkan buku dengan judul yang sama.

Film ini bercerita tentang adanya Alien yang ingin menginvasi bumi, stereotype. Nah, si Alien-Alien ini berusaha menginvasi dengan beberapa tahapan (wave) dan dalam film dibagi menjadi 5 tahapan. 5 tahapan itu bisa dilihat apa saja di poster filmnya karena gue sendiri juga lupa istilah dari tahapan-tahapan tersebut tapi gue menolak untuk menjabarkan tahapan tersebut karena gue khawatir gue akan membocorkan ceritanya.

Gue sangat terbawa emosi dari tokoh utama perempuan, Cassie. I feel you girl, ketika Cassie harus menjalani setiap tahapan dan terpisah oleh anggota keluarganya satu per satu. Ketika cerita ini menggambarkan bagaimana kehidupan Cassie yang awalnya adalah anak SMA biasa dan tiba-tiba hidupnya berubah dalam semalam karena invasi tersebut. Permasalahannya, film ini bukan seperti film War of the World ataupun Mars Attack yang sangat brutal, tapi penginvasian ditunjukkan dalam bentuk bencana alam. Buat gue sih, mungkin banget ketika gue lagi asik jalan di taman bersama adik gue, tiba-tiba ada gempa bumi yang nyaris menewaskan gue. Dan gue sadar betapa tidak berdayanya gue.

Singkat cerita, film ini sukses membuat gue merasakan tekanan emosional si tokoh utama. Terpisah dari keluarga, menjadi penyintas, tidak tahu arah, dan terluka. Tapi emosi ini hanya terjadi di sepertiga film kok. Setelahnya hanya tipikal film Hollywood yang penuh aksi.

Banyak hal yang menurut gue agak janggal (dan teman gue yang menyebutkan satu keanehan) terkait film ini. Diantaranya adalah : warna rambut Cassie yang blonde sementara kedua orangtuanya berambut gelap, kuteks hitam yang terpasang rapi setelah berhari-hari bertahan hidup, tetap cantik dan tidak berdebu setelah seminggu bertahan hidup, hingga seorang pria yang memutuskan mandi di sungai tengah kondusi mencekam dunia. Agak gagal paham saja sih. But it's still fun though.

Scoring tidak terlalu menonjol untuk film ini. Standar saja bisa membuat suasana tapi tidak iconic seperti bunyi khas di film Inception atau Interstellar (i know you're thinking about that demmm sound). Lagu closing cukup random yaitu lagu SIA yang bahkan gue enggak tahu judulnya. Gue menolak untuk meriset lebih jauh karena tulisan ini berisi opini gue akan film ini, bukan faktanya.

Gue sendiri menikmati untuk menonton film ini karena menurut gue twist dari film ini cukup sulit gue duga (meskipun sedikit berasumsi, tapi entah kenapa gue termakan plot ceritanya untuk tidak berpikir). Tipikal film dengan krisis identitas karakter dan pencurian jati diri oleh parasit, lo enggak akan tahu mana teman dan mana musuh. Twist utama berputar di sekitar topik tersebut.

Oh iya, film ini sedikit mengingatkan gue akan The Last of Us karena setting post-apocalypse nya. Hal paling berbahaya pada dunia tersebut adalah manusia. Bukan ancaman lainnya.

Secara keseluruhan, gue suka film ini. Gue akan memberikan rating Ok untuk Plot, So-so untuk kostum dan setting, so-so untuk scoring, dan Ok untuk aktor. So i think i'm gonna give 3/4 for this movie.

Dan terakhir, menurut gue film ini cukup oke untuk ditonton di bioskop karena pensuasanaan tegangnya akan jauh terasa ketika lo enggak mendapat banyak distraksi dalam menonton ini. Tapi kalaupun enggak, menurut gue masih enggak masalah karena efek visual film ini masih belum setaraf Avatar (blue) yang membuat gue merasa wajib menonton 3Dnya.

Sunday, September 21, 2014

Another point of view about Lucy

I know this is a bit late for write this up, but i just had this sudden urge. Yes, i know many people consider Lucy (2014) as somehow another average movie. I did read some reviews that said about how unrealistic and the most catching phrase in those comments is “why’s when her brain capacity’s get higher, she’s just becoming dumber”. Also there is some comments about the missing part of the story, that she suddenly able to do something etcetera etcetera. Oh sorry if i did gave you some spoilers, but trust me, i think this wasn’t that heavy for a spoilers. Well, can’t guarantee this post didn’t cost you some sneak peek at the movie, continue at your own risk : ) Somehow i just want to write this as a biologist. I know i am not that genius at this, but at least i think i had this logic and correct me if i am wrong. I am writing this in my point of view as biologist.

Sunday, September 7, 2014

Finally done with Devious Maid season 2!

Okay, been doing a marathon catch up for this series actually, and it’s totally worth it! So, just finished this series around a week ago but finally had the chance to write this up.

In my opinion, in this 2nd season, there are a lot lot lot and lot of hot guys being introduced this season for each of the maid casts. The Latinas are already hot enough by themselves, so i don’t think there will be anything that can caught me off guard for the next season. But the guys on this season? Definitely hotter than the previous season. The most i can’t stand is the one with Zoila. Yes, it is Javier. God, i just love the way Zoila met this guy and seriously, IMHO, Zoila fits him a lot way more than with Pablo. I think it’s typical thought of good woman gets good man. But you have to see it by yourself what happen actually between Zoila, Pablo, and Javier. It’s pretty much standard plot but… you have to see it with your own eyes about this Javi character. I don’t know, maybe there will be another twist about Javi in the next season? Just please don’t do anything stupid with him dear Marc Cherry ._.
Devious Maids - 2x11 - You Can't Take It With You.HDTV.ASAP.en.mp4_snapshot_02.45_[2014.09.07_17.51.40]Javier and Zoila
Finally done with this season and can’t wait for the next season! As usual of American TV series, there’s this major cliff hangover for each episode finale of each season. It’s okay, i can wait. Although it’s pretty much boring without some TV series to watch after some major marathon with Desperate Housewives before this series. So, been doing some lookup. Tried Army Wives and not really interested with the pilot episode, so does with Revenge. Still waiting for the Mistresses to finish up and while waiting, trying the catch up with Modern Family season 5. Ugh, i wish i can find another TV series of this girls circle kind like Desperate Housewives or Devious Maid.

Wednesday, April 9, 2014

Koin dua sisi


Jadi ceritanya, saya baru selesai baca blog orang banget nih sekarang. Akibatnya apa? Berpikir. Kontemplasi.

Kalau iseng didefinisikan, saya itu seperti spons. Spons emosi. Sangat mudah untuk saya kebawa sama emosi seseorang. Mungkin ini yang disebut empati ya? Sebetulnya spons ini tuh seperti koin dua sisi buat saya. Ada untungnya, ada ruginya. Paling rugi adalah saya tuh gampang banget kepengaruh emosi negatif dari orang lain. Ketika orang ada emosi atau perasaan gloomy, marah, dan emosi-emosi lain yang ada di 7 deadly sins, saya gampang banget ketularan dari orang. Kalau dilihat dari satu sisi, ini rugi banget loh. Akibatnya saya itu jadi moody banget dan… cenderung negatif orangnya.

Friday, February 5, 2010

Review : Bruno


Bruno adalah sebuah film yang menceritakan seorang presenter gay dari austria yang sangat ingin terkenal. Meskipun sebetulnya Bruno berbakat dalam bidang tersebut, sayangnya cara Bruno bersikap sangatlah menggelikan sehingga membuat orang-orang memandang rendah dirinya. Secara keseluruhan film ini bercerita tentang perjuangan Bruno yang ingin menjadi terkenal.

Secara grafik biasa aja, sound efek biasa aja, yaaaa semuanya sih standar standar aja. Mungkin kalau dibilang yang kurang dari film ini adalah kenormalan dan sensor. ya, sensor. Apa mungkin karena saya menonton di dvd kah jadi tidak disensor? ya intinya sih film ini sangat frontal dan mengumbar sisi gay lah. Pokoknya saya benar-benar dibuat diam oleh film ini karena saya sudah nggak ngerti lagi mau ngomong apa. -__________-

Kalau dilihat dari secara akting, saya nggak ngerti ya apa memang kelakuan aslinya si Bruno memang begitu atau gimana, tapi aktingnya benar-benar bagus banget sampai bisa bikin saya kepingin membanting televisi saya. sumpah itu benar-benar menyebalkan. Dimana dengan sifat arogannya dan kemanjaan gay nya dia. Kalau memang ya sutradaranya ingin membuat penonton membenci karakter Bruno, well, that's work. Congratulations!

Menurut saya, hal yang benar-benar menonjol disini adalah akting dan ide cerita. Dimana film ini bisa banget mengangkat tema yang benar-benar nggak umum dan membuat pengembangan cerita yang bagus banget walaupun saya nggak suka sama sekali sama endingnya dimana ada adegan si bruno ingin berubah suatu kebiasaan tapi akhirnya kembali lagi ke kebiasaan dulunya. Kalau memang endingnya seperti itu ya jadi terasa sia sia saja menurut saya perjuangannya.

Yah secara overall, film ini benar-benar nggak saya rekomendasikan untuk ditonton berdua sama cowok. Yup, lebih aman nonton sendiri dan kalau mau sekalian saja ditonton beramai-ramai. Dan secara pribadi, saya cukup menyesal menghabiskan waktu sekitar 1 setengah jam untuk menonton film ini.

Tuesday, January 26, 2010

Review : Ponyo




Ponyo (2008) dengan judul lengkapnya, Ponyo on the cliff by the sea, merupakan sebuah film animasi panjang dengan Hayao Miyazaki sebagai Directornya dan merupakan produksi dari Studio Ghibli dan Walt Disney. Film ini menceritakan tentang Ponyo yang merupakan seekor ikan mas yang merupakan anak dari manusia dan seorang dewi laut yang terdampar keluar dari laut dan mengenal Sousuke, seorang anak manusia yang masih murid TK dan hanya tinggal beruda dengan ibunya, Lisa, karena ayahnya merupakan seorang pelaut dan jarang pulang. Secara garis besar film ini menceritakan kisah dari ponyo dan sousuke.

Berbeda dengan animasi jepang pada umumnya, gambar dari Studio Ghibli bukanlah gambar-gambar anime Moe (manis dan imut-imut -red) melainkan gambar kartun yang memang tidak lepas dari gaya gambar jepang tetapi lebih realistis untuk menggambarkan bentuk seorang manusia. Film ini tidak hanya berputar didunia manusia, tetapi juga dunia bawah laut. Gambar animasi dunia bawah laut tersebut juga cukup enak dilihat karena warnanya yang tidak terlalu ramai dan grafis animasinya yang cukup realistis tapi digambarkan dengan kelakuan yang manis dan menggemaskan.

Menurut saya pribadi, film ini memang tidak terlalu menendang seperti Spirited Away (2001) dalam segi cerita karena film ini bagaikan menonton dongeng-dongeng Walt Disney namun dalam gaya gambar jepang. Walaupun terdapat beberapa pesan moral yang tersirat, tapi sayangnya film ini agak kurang pas dalam settingnya karena film ini juga sedikit menambah bumbu percintaan dalam hubungan sousuke dan ponyo tapi agak kurang pas karena sousuke masih anak TK yang menurut saya agak kurang pas saja untuk mengangkat tema cinta di setting anak TK.

Dalam segi musik film ini sudah cukup bagus menggarap Scoring dan lagu penutup. Scoring yang diberikan bisa mengangkat suasana tegang dan sedih. meskipun sayangnya film ini kurang menekankan dibagian Scoring tapi musik yang diberikan bisa dibilang pas dengan suasana yang ada.

Secara keseluruhan, film ini bisa dibilang sebuah film dongeng yang bisa atau bahkan mengalahkan film-film Fairytale dari Walt Disney. Film ini cocok untuk dijadikan sebagai film Bedtime Stories karena ceritanya yang tidak perlu pusing-pusing kita pikirkan logisnya atau tidak dan secara alur film ini tidak memberikan ketegangan yang berlebih seperti pada film bergenre horor ataupun thriller. Just take a seat and enjoy it guys!